-->

Perkembangan Karya Sastra Zaman Pergerakan Nasional

Kebudayaan nasional dalam pandangan Ki Hajar Dewantara adalah “puncak-puncak dari kebudayaan daerah”. Kutipan pernyataan ini merujuk pada paham kesatuan makin dimantapkan, sehingga ketunggalikaan makin lebih dirasakan daripada kebhinekaan. Wujudnya berupa negara kesatuan, ekonomi nasional, hukum nasional, serta bahasa nasional. Definisi yang diberikan oleh Koentjaraningrat dapat dilihat dari peryataannya: “yang khas dan bermutu dari suku bangsa mana pun asalnya, asal bisa mengidentifikasikan diri dan menimbulkan rasa bangga, itulah kebudayaan nasional”. Pernyataan ini merujuk pada puncak-puncak kebudayaan daerah dan kebudayaan suku bangsa yang bisa menimbulkan rasa bangga bagi orang Indonesia jika ditampilkan untuk mewakili identitas bersama. Nunus Supriadi, “Kebudayaan Daerah dan Kebudayaan Nasional”

Perkembangan kebudayaan Indonesia sejak zaman Pergerakan Nasional sampai tahun 1945 antara lain dapat dilihat dari kebangkitan para seniman, baik seni sastra, musik, drama dan berbagai kesenian daerah. Pada masa itu seni merupakan alat untuk membakar semangat nasionalisme, dengan adanya berbagai karya seni sekelompok orang yang kritis, menuangkan ide-idenya dan pemikirannya lewat karya seni tersebut. Hal ini berarti bahwa keberadaan karya seni dan seniman ikut memberikan andil dalam membangun rasa kebangsaan (nasionalisme) yang tinggi. Dengan demikian kita tidak dapat mengabaikan peranan seniman dalam Pergerakan Kebangsaan Indonesia.

Dari masa Pergerakan Nasional sampai dengan tahun 1945 dapat dibagi menjadi beberapa periode atau angkatan, sebagai berikut.

1. Angkatan 20/Balai Pustaka
Angkatan Balai Pustaka biasa disebut dengan Angkatan 20 atau Angkatan Siti Nurbaya. Sebenarnya hal ini kurang begitu tepat, sebab kegiatan sastra Indonesia sekitar tahun 1920 tidak semata-mata terbatas pada Balai Pustaka. Di luar Balai Pustaka juga terdapat kegiatan penerbitan majalah dan buku-buku yang bersifat sastra. Penamaan Angkatan Siti Nurbaya pun sebenarnya juga kurang tepat, sebab hanya berdasar pada nama sebuah roman. Nama Balai Pustaka mengacu kepada dua pengertian, yakni Balai Pustaka sebagai nama Badan Penerbit dan Balai Pustaka sebagai suatu angkatan dalam sastra Indonesia.

a. Latar Belakang Lahirnya Angkatan Balai Pustaka
Balai Pustaka sebagai suatu nama angkatan dalam sastra Indonesia tidak terlepas dari riwayat pendirian Balai Pustaka sendiri. Pada akhir abad ke-19 pemerintah banyak membuka sekolah bumi putra, dengan tujuan untuk mendidik pegawai-pegawai rendahan yang dibutuhkan oleh pemerintah Belanda. Akan tetapi sekolah-sekolah yang tidak diharapkan akan tumbuh dan berkembang, justru berkembang makin pesat, banyak masyarakat yang pandai membaca dan menulis. Melihat minat masyarakat yang pesat dalam hal membaca, maka pemerintah Belanda merasa khawatir jika rakyat sempat membaca buku-buku dari luar negeri. Oleh karena itu, pemerintah Belanda kemudian membentuk sebuah komisi yang diberi nama Commissie Voor de Inlandsche School en Volksslectuur (Komisi untuk Bacaan Rakyat dan Sekolah-Sekolah Bumi Putra). Komisi ini dibentuk pada tanggal 14 September 1908 di bawah pimpinan Dr. G.A.J. Hazeu. Pada tahun 1917 namanya diganti menjadi Balai Pustaka, dan Balai Pustaka kemudian berkembang dengan pesat.

Adapun hal-hal yang diusahakan oleh Balai Pustaka adalah sebagai berikut.
  1. Membukukan cerita-cerita rakyat atau dongeng-dongeng yang tersebar di kalangan rakyat. Jika tidak dibukukan, lama-kelamaan akan hilang.
  2. Menerjemahkan sastra Eropa yang bermutu dipandang dari segi sastra. Dengan demikian kita juga dapat berkenalan dengan kesusastraan asing.
  3. Menerbitkan buku-buku bacaan sehat bagi rakyat Indonesia, juga buku-buku yang dapat menambah pengetahuan dan kecerdasan rakyat. Misalnya, buku-buku yang berisi petunjuk bagaimana menjaga kesehatan, cara bercocok tanam, beternak, dan sebagainya.
Bagi perkembangan kesusastraan Indonesia, berdirinya Balai Pustaka memberikan kesempatan dan kemungkinan kepada rakyat Indonesia untuk berkarya sekaligus memperoleh bacaan sehat. Balai Pustaka telah memberikan dorongan maju dalam bidang karang mengarang atau tulis-menulis. Dari sinilah kemudian muncul pengarang-pengarang yang kemudian kita kenal sebagai pelopor Angkatan Balai Pustaka, seperti Nur Sutan Iskandar, Marah Rusli, Abdul Muis dan sebagainya.

b. Karakteristik Sastra Balai Pustaka
Sastra Balai Pustaka lahir sekitar tahun 20-an, di mana kehidupan masyarakat kita dalam masa penjajahan. Di bawah penindasan kaum penjajah, masyarakat kita memiliki sikap, cita-cita, dan adat istiadat yang isinya memberontak. Hal tersebut karena dalam kehidupan mereka selalu diwarnai peristiwa-peristiwa sosial dan budaya yang sengaja diciptakan oleh pihak penjajah, yakni pemerintah Belanda. Hal inilah yang menjadi ciri atau karakteristik sastra pada masa itu. Umumnya karakteristik sastra suatu periode dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu: 
  1. situasi dan kondisi masyarakat, 
  2. sikap hidup dan cita-cita para pengarang, dan 
  3. sikap dan persyaratan yang ditentukan oleh penguasa atau pemerintah.
Bertolak dari hal-hal tersebut di atas, maka karakteristik sastra Angkatan Balai Pustaka adalah sebagai berikut: 
  1. Bahasa sastra adalah bahasa Indonesia masa permulaan perkembangan, yang disebut Bahasa Melayu Umum; 
  2. Sastra Balai Pustaka umumnya bertema masalah kawin paksa. Masyarakat (terutama kaum ibu) beranggapan bahwa perkawinan urusan orang tua. Orang tua memiliki kekuasaan mutlak dalam menentukan jodoh anaknya. 
c. Jenis Sastra Angkatan Balai Pustaka
Balai Pustaka merupakan badan penerbit yang diusahakan pemerintah kolonial, tentu saja kegiatannya tidak pernah lepas dari kepentingan politik penjajahan. Hal ini berpengaruh terhadap hasil karya bangsa Indonesia, sebab tidak semua hasil karya bangsa Indonesia bisa diterima di Balai Pustaka, walaupun bila ditinjau dari segi kesusastraan itu bernilai. Adapun macam karangan yang muncul pada zaman Angkatan Balai Pustaka, adalah sebagai berikut.

1) Prosa

Macam Prosa adalah sebagai berikut.
a) Roman
Cerita yang diambil dari daerah Minangkabau dan Riau. Pada umumnya berisi perjuangan kaum muda yang gagal dalam menghadapi kejanggalan-kejanggalan adat pada masa itu. Selain itu, ada juga yang berisi pertentangan antara kaum muda yang bersifat modern dan kaum tua yang bersifat kolot/ortodoks. Contohnya roman yang bertemakan masalah adat, yaitu;
  • Azab dan Sengsara (Merari Siregar), 
  • Salah Pilih (Nur Sutan Iskandar), 
  • Salah Asuhan (Abdul Muis), dan 
  • Siti Nurbaya (Marah Rusli). 
Contohnya roman yang bertemakan masalah kawin paksa, seperti;
  • Dian Yang Tak Kunjung Padam (Sutan Takdir Alisyabana), 
  • Darah Muda (Adi Negoro), 
  • Asmara Jaya (Adi Negoro). 
Roman yang bertemakan masalah kebangsawanan, seperti;
  • Siti Nurbaya (Marah Rusli), 
  • Si Cebol Rindukan Bulan (Aman Datuk Mojoindo), 
  • Pertemuan Jodoh (Abdul Muis), 
  • Memutuskan Pertalian (Tulis Sutan Sati).
b) Cerita Pendek (Cerpen)
Setelah masalah kawin paksa tidak muncul lagi dalam angkatan Balai Pustaka, maka sebagai gantinya muncul cerita pendek (cerpen). Ciri-ciri cerpen Angkatan Balai Pustaka adalah sebagai berikut: (1) bahan ceritanya diambil dari kehidupan sehari-hari, (2) merupakan bacaan hiburan, (3) sifat cerpen biasanya mengkritik atau bersifat humor, karena cerpen merupakan cermin kehidupan masyarakat dengan suka dukanya. Contoh cerita pendek adalah: Teman Duduk (kumpulan cerpen) oleh M. Kasim, Di Dalam Lembah Kehidupan (kumpulan cerpen) oleh Hamka, dan Kawan Bergelut (kumpulan cerpen) oleh Suman Hasibuan.

c) Drama
Drama-drama yang dihasilkan oleh Angkatan Balai Pustaka, di antaranya adalah:
  1. Bebasari oleh Rustam Effendi; Ini merupakan drama dalam kesusastraan Indonesia. Bentuknya sebuah drama bersajak yang isinya berupa sindiran tentang hidup yang tertekan di bawah penjajahan
  2. Menantikan Surat dari Raja oleh Moh. Yamin; Drama ini merupakan saduran dari karangan sastrawan India Rabindranath Tagore. 
2) Sajak
Pengarang sajak Angkatan Balai Pustaka masih menyukai bentuk puisi Melayu klasik, seperti bentuk pantun dan syair dalam sajak-sajaknya. Misalnya: 
  • Syair Siti Aminah oleh Syahbudin, 
  • Syair Si Lindung Delima oleh Aman, 
  • Syair Putri Hijau oleh A. Rahman.
d. Tokoh-Tokoh Sastra Angkatan Balai Pustaka
Dalam Angkatan Balai Pustaka ada tiga tokoh penting, yakni Nur Sutan Iskandar, Marah Rusli, dan Abdul Muis. Nur Sutan Iskandar adalah seorang tokoh yang banyak menghasilkan karya sastra dan selalu berusaha memasukkan semangat dan cita-cita kebangsaan. Marah Rusli dijadikan tokoh penting karena hasil karyanya yang berjudul Siti Nurbaya merupakan hasil karya sastra Balai Pustaka yang paling populer. Sedangkan, Abdul Muis adalah pengarang roman Salah Asuhan merupakan roman yang paling menonjol dari segi pengolahannya. 

1) Nur Sutan Iskandar
Nur Sutan Iskandar dilahirkan di Sungai Batang, Maninjau, Sumatra Barat tanggal 3 November 1893. Semasa kecil namanya Muhammad nur, setelah beristri menurut adat Minang di beri gelar Sutan Iskandar. Hasilhasil karya sastranya yang lain, ialah: (1) Abunawas, (2) Neraka Dunia, (3) Cinta Tanah Air.

2) Marah Rusli
Marah Rusli lahir di Padang pada tahun 1889 dan meninggal tahun 1968. Ia menjadi dokter hewan untuk beberapa lama di Sumbawa dan terakhir di Semarang. Ia menikah dengan gadis Sunda, namun tidak disetujui keluarga, akibatnya Marah Rusli diasingkan dari keluarganya. Kondisi ini ikut memengaruhi karya-karyanya. Roman Siti Nurbaya, yang berisi lukisan realitas masyarakat pada saat itu, merupakan roman karya Marah Rusli yang paling populer masa Angkatan Balai Pustaka. Hasil-hasil karya sastra yang lain, di antaranya ialah: (1) Anak dan Kemenakan (roman), (2) La Hami (roman sejarah Pulau Sumba).

3) Abdul Muis
Abdul Muis dilahirkan di Bukittinggi tahun 1886 dan meninggal pada tahun 1959 di Bandung. Ia pernah mengenyam pendidikan di Stovia, namun tidak selesai, kemudian menjadi wartawan dan pemimpin Sarekat Islam. Pernah juga menjadi anggota delegasi Comite Indie Weerbar (Panitian Pertahanan Hindia) ke negeri Belanda. Pada tahun 1920 diangkat menjadi anggota Volksraad (Dewan Perwakilan Rakyat). Karyanya yang paling terkenal ialah Salah Asuhan. Roman ini sangat menarik, karena temanya pas dan cara mengungkapkannya baik. Hasil-hasil karya sastra yang lain, di antaranya ialah: 
  • Pertemuan Jodoh tahun 1933, 
  • Suropati, roman sejarah tahun 1950, 
  • Putri Umbun-Umbun Emas tahun 1950, 
  • Robert Anak Suropati, roman sejarah tahun 1952. 
4) Aman Datuk Mojoindo; 
Hasil karyanya, antara lain: (1) Si Doel Anak Betawi, (2) Si Cebol Rindukan Bulan.

5) Tulis Sutan Sati; 
Hasil karyanya, antara lain: 
  • Sengsara Membawa Nikmat tahun 1928, 
  • Tidak tahu Membalas Guna tahun 1932, 
  • Tak Disangka tahun 1932.
6) Merari Siregar; 
Hasil karyanya, antara lain: Azab dan Sengsara tahun 1920.

2. Angkatan 30/Pujangga Baru

a. Latar Belakang Lahirnya Pujangga Baru
Lahirnya Angkatan Pujangga Baru didasari oleh hal-hal sebagai berikut: (1) adanya tendesi karya sastra yang sebelumnya lebih bersifat politik. Hal ini dinilai sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan masyarakat dan mengarah kepada nasionalisme; (2) menggeloranya semangat persatuan yang hidup di kalangan bangsa Indonesia termasuk golongan sastrawan. Golongan sastrawan tidak mau ketinggalan berjuang untuk membentuk persatuan bangsa dengan mengadakan pembaharuan dalam bidang kesusastraan.

b. Karakteristik Sastra Pujangga Baru
Karakteristik sastra Pujangga Baru, di antaranya ialah: (1) tema pokok cerita sudah tidak terfokus masalah adat/kawin paksa, melainkan sudah berorientasi ke masyarakat modern. Misalnya, kebutuhan hidup (Manusia Baru oleh Sanusi Pane), kedudukan wanita (Layar Terkembang oleh Sutan Takdir Alisyahbana); (2) bersifat nasionalisme, misalnya romannya Sutan Takdir Alisyahbana; (3) bentuk atau cara pengucapannya bebas sesuai dengan kepribadiannya, misalnya roman, esai, kritik dan sebagainya; (4) prosa dan puisinya bersifat romantis, seperti nama buku Puspa Mega, Madah Kelana, Buah Rindu dan sebagainya, bahan sejarah misalnya Ken Arok, Ken Dedes, dan sebagainya.

c. Konsepsi Pujangga Baru sebagai Aliran Kebudayaan
Para pengarang Pujangga Baru merupakan suatu angkatan yang diikat oleh kesamaan konsepsi, yaitu cita-cita hendak mewujudkan kebudayaan baru yang dinamis dan kebudayaan persatuan Indonesia. Dengan kesamaan konsepsi ini, memungkinkan mereka bekerja sama dalam mewujudkan cita-cita, tetapi antara para pengarang Pujangga Baru mempunyai perbedaan dalam hal menentukan wujud dan cara mewujudkannya kebudayaan baru itu. Mengenai konsepsi pembaharuannya dapat dibagi menjadi dua aliran, yakni aliran yang berhaluan ke Barat dengan tokohnya Sutan Takdir Alisyahbana dan aliran yang berorientasi ke Timur dengan tokohnya Sanusi Pane.

1) Sutan Takdir Alisyahbana
Menurut Sutan Takdir Alisyahbana, bahwa kebudayaan Indonesia bukanlah kelanjutan dari kebudayaan Jawa, kebudayaan Sunda, dan kebudayaan daerah yang lain. Kebudayaan pra-Indonesia bersifat statis, karena itu tidak boleh berperan dalam pembangunan kebudayaan baru. Sebaliknya kebudayaan Indonesia baru harus dinamis, karena hanya masyarakat yang dinamis itulah yang dapat diajak maju. Sebagai ilustrasi, Sutan Takkdisr Alisyahbana mengemukakan contoh bangsa Barat yang telah berhasil meraih kemajuan di segala bidang, karena memiliki sifat yang dinamis, dengan unsur-unsur kebudayaan yang terdiri atas individualisme, intelektualisme, dan materialisme.
Menurut Sutan Takdir Alisyahbana untuk membentuk kebudayan baru, bangsa Indonesia harus berani mengambil unsur-unsur kebudayaan Barat. Sebab, unsur-unsur itulah yang membuat suatu bangsa menjadi maju dan dinamis. Kebudayaan kita masih dikuasai oleh nilai-nilai seni dan agama, maka kebudayaan kita disebut kebudayaan ekspresif. Kebudayaan modern yang berkembang pesat dewasa ini lebih banyak dikuasai oleh ilmu dan ekonomi, lebih banyak berdasarkan akal dan perhitungan, sehingga disebut kebudayaan progresif. Kebudayaan progresif membawa masyarakat bangsa menjadi kaya akan nilai-nilai materi, tetapi terbelakang di bidang nilai rohani. Sebaliknya kebudayaan ekspresif membawa masyarakat suatu bangsa menjadi kaya akan nilai-nilai rohani, tetapi terbelakang di bidang iptek dan kemakmuran materi. Oleh karena itu, kita harus mampu memadukan antara kebudayaan ekspresif dan progresif, agar menjadi bangsa yang maju baik di bidang rohani dan jasmani, di bidang agama dan iptek, serta menjadi makmur.

2) Sanusi Pane
Menurut Sanusi Pane bahwa kebudayaan Indonesia baru yang akan dibentuk harus memadukan unsur-unsur kebudayaan Barat dan Timur. Kebudayaan Barat olehSanusi Pane dilambangkan sebagai faust, seorang tokoh mitologi dalam sastra Barat yang bersedia mengorbankan jiwanya asal menguasai materi. Kebudayaan Timur olehSanusi Pane dilambangkan sebagai Arjuna, seorang tokoh ksatria dalam dunia pewayangan yang bersedia mengorbankan dirinya untuk memperoleh keluhuran budi (segi rohani). Unsur-unsur kebudayaan, meliputi kolektivisme, spiritualisme, dan perasaan. Kebudayaan baru yang akan dibentuk harus memadukan unsur kebudayaan Barat (materialisme, intelektualisme, dan individualisme) dan kebudayaan Timur (kolektivisme, spiritualisme dan perasaan). Dengan kata lain kebudayaan baru yang akan dibentuk merupakan perpaduan antara kebudayaan Barat dan Timur.

d. Tokoh-Tokoh Sastra Pujangga Baru
Tokoh-tokoh Pujangga Baru dan hasil karyanya adalah sebagai berikut.

1) Sutan Takdir Alisyahbana
Sutan Takdir Alisyahbana dilahirkan di Natal, Tapanuli Selatan tahun 1908. Pada tahun 1928 ia menjadi guru HIS di Palembang, namun pekerjaan itu tidak menarik, dan pada tahun 1929 beralih ke pekerjaan sebagai redaktur kepala majalah Panji Pustaka. Pada tahun 1930, menjabat sebagai redaktur kepala di Balai Pustaka. Mulai tahun 1937 melanjutkan studi di Sekolah Hakim Tinggi hingga memperoleh gelar Mister van de Recht (Sarjana Hukum) pada tahun 1942. Hasil karyanya, antara lain: (1) Tak Putus Dirundung Malang, roman tahun 1929; (2) Dian Yang Tak Kunjung Padam, roman tahun 1932, (3) Anak Perawan di Sarang Penyamun, roman tahun 1941; (4) Layar Terkembang, roman tahun 1936; (5) Tebaran Mega, puisi; (6) Dari Perjuangan ke Pertumbuhan Bahasa Indonesia, tahun 1957; (7) Perjuangan Tanggung Jawab dalam Kesusastraan.

2) Sanusi Pane
Sanusi Pane lahir di Muara Sipongi, Tapanuli. Tingkat pendidikannya adalah Mulo, Kweek-school Gunung Sari, dan HIK di Bandung. Pada tahun 1923 belajar ke India untuk menambah pengetahuan tentang kebudayaan India. Kembali dari India menjabat redaksi majalah Timbul. Pada tahun 1934 menjadi kepala Perguruan Rakyat di Bandung, dan menceburkan diri di dalam dunia jurnalistik. Lapangan perguruan kemudian ditinggalkan dan menjadi redaktur harian Kebangunan, selanjutnya menjabat Ketua Kantor Pusat Kebudayaan di Jakarta. Karya sastranya adalah: (1) Pancaran Cinta tahun 1926, (2) Puspa Mega tahun 1927, (3) Madah Kelana tahun 1937, (4) Manusia Baru tahun 1940, (5) Arjuna Wiwaha tahun 1940.

3) Armyn Pane
Armyn Pane lahir pada tahun 1908 di Muara Sipongi, Tapanuli. Tingkat pendidikan adalah masuk SMA bagian A/1 (bagian sastra Timur) di Sala dan pernah mengenyam pendidikan dokter di Stovia Jakarta, dan pindah sekolah dokter di NIAS Surabaya (tidak tamat). Semula bekerja sebagai wartawan, di samping sebagai guru bahasa dan sejarah pada sekolah Kebangsaan di Jakarta. Sejak tahun 1936 bekerja sebagai anggota sidang pengarang di Balai Pustaka. Pada masa pendudukan Jepang menjabat sebagai kepala bagian Kesusastraan di Kantor Pusat Kebudayaan di Jakarta. Pernah duduk sebagai anggota redaksi Majalah Indonesia dan Majalah Wanita. Hasil karyanya antara lain: (1) Belenggu, tahun 1938, (2) Jiwa Berjiwa, tahun 1939, (3) Ratna, tahun 1943, (4) Kisah Antara Manusia, tahun 1949.

4) Amir Hamzah
Amir Hamzah lahir di Binjai, Langkat 1911. Pendidikannya adalah: HIS, Mulo di medan, AMS di Solo, dan Sekolah Kehakiman baru sampai kandidat. Hasil karyanya antara lain: (1) Nyanyi Sunyi, (2) Buah Rindu, (3) Setanggi Timur.

5) Y.E Tatengkeng
Hasil karyanya adalah Rindu Dendam tahun 1934.

6) Hamidah
Hasil karyanya Kehilangan Mustika tahun 1935.

7) Suman Hasibuan
Hasil karya Suman Hasibuan meliputi: (1) Kasih Tak Terlerai tahun 1929, (2) Percobaan Setia tahun 1931, (3) Mencari Pencuri Anak Perawan tahun 1932, (4) Kasih Tersesat, tahun 1932, (5) Tebusan Darah, tahun 1939.

3. Angkatan '42

a. Latar Belakang Lahirnya Angkatan 42
Lahirnya Angkatan '42 bersamaan dengan adanya Perang Pasifik. Perang Pasifik meletus pada tanggal 7 Desember 1941 yang diawali dengan adanya serangan Jepang ke pangkalan Angkatan laut Amerika Serikat di Pearl Harbour. Dalam waktu singkat Jepang telah berhasil menguasai Pasifik dan kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia.

Jepang mengumandangkan kemerdekaan bagi bangsa-bangsa Timur termasuk Indonesia. Rakyat Indonesia menyambut dengan penuh antusias. Namun, dalam kenyataannya setelah Jepang berhasil menguasai Indonesia, segera mengeluarkan pernyataan adanya larangan semua kegiatan baik di bidang politik maupun budaya. Sebagai gantinya, pemerintah pendudukan Jepang mendirikan perkumpulan atau gerakan Tiga A, kemudian Pusat Tenaga Rakyat (Putera) dan kemudian menjadi Jawa Hokokai.

Majalah dan surat kabar dilarang terbit. Alasannya, bahwa segala tenagaperlu digunakan secara efektif. Kondisi yang demikian itu sangat menggetarkan pikiran dan jiwa sebagian seniman Jepang. Namun demikian, kegiatan seni dan budaya yang merupakan ekspresi kehidupan manusia pada zamannya tetap tumbuh dan berkembang. sehingga di masa pendudukan Jepang ini pun juga muncul tokoh-tokoh sastrawan dengan karya-karyanya. Masa pendudukan Jepang diwarnai dengan kehidupan yang memilukan dan penuh perjuangan. Hal tersebut memengaruhi hasil karya para sastrawan angkatan '42. Karya sastra mengandung cita-cita, menimbulkan semangat cinta tanah air, mengobarkan semangat juang, dan menganjurkan semangat kerja. Masa pendudukan Jepang mengantar bangsa Indonesia untuk keluar dari belenggu penjajahan asing. Setelah 3,5 tahun Jepang berhasil mengeksploitasi sumber daya alam dan sumber daya manusia, akhirnya harus menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945. Kondisi inilah yang kemudian mengantarkan bangsa Indonesia menuju pintu gerbang kemerdekaan dan lahirlah Angkatan '45

b. Karakteristik Sastra Angkatan 42
Lahirnya Angkatan '42 adalah pada masa pendudukan Jepang, oleh karena itu, karya sastranya memiliki karakteristik sebagai berikut: (1) Karya sastra kebanyakan berisi tentang kehidupan masyarakat; (2) Para seniman banyak yang menggunakan simbol-simbol untuk menghindarkan diri dari sensor Jepang; (3) Karya sastra tidak boleh menyangkut politik pemerintahan Jepang, melainkan mengandung pujian-pujian bagi pemerintah Jepang; (4) Bahasa Indonesia bukan hanya sekadar alat untuk bercerita melainkan untuk menyampaikan perasaan yang sedih dan pilu yang menggambarkan kondisi masyarakat saat itu.

c. Tokoh-Tokoh Sastra Angkatan 42
Tokoh-tokoh sastra pada masa pendudukan Jepang, di antaranya adalah:

1) Usmar Ismail
Hasil karyanya antara lain: (1) Puntung Berasap, kumpulan sajak; (2) Pancaran Cinta dan Gema Tanah Air, cerpen; (3) Sedih dan Gembira, drama.

2) Rosihan Anwar
Rosihan Anwar lahir di Padang tahun 1922. Ia seorang wartawan, dan terkenal sebagai pengarang sajak dan cerpen. Sajak-sajaknya melukiskan perasaan dan semangat pemuda, sedangkan cerpennya melukiskan kekalutan jiwa pemuda karena keraguan janji-janji Jepang. Hasil karyanya antara lain: (1) Radio Masyarakat, cerpen; (2) Radio Kecil, roman; (3) Bajak laut di Malaka.

3) Amal Hamzah
Amal Hamzah lahir di Binjai pada tahun 1922. Ia adalah adik Amir Hamzah, sajak-sajaknya terpengaruh oleh kakaknya. Hasil karyanya antara lain: (1) Pembebasan Pertama, kumpulan sajak; (2) Melaut Berciku, sajak; (3) Buku dan Penulis, kritik roman dan drama.

4) Abu Hanifah atau El Manik
Abu Hanifah lahir di Padang tahun 1906. Ia kakak dari Usmar Ismail.Hasil karyanya antara lain: (1) Taufan di Atas Asia, merupakan kumpulan drama zaman Jepang dan dibukukan pada tahun 1949, yang terdiri atas empat drama, yaitu Taufan di Atas Angin, Intelek Istimewa, Dewi Rini, dan Insan Kamil; (2) Rogaya; (3) Mambang Laut; (4) Dokter Rimbu, roman.
LihatTutupKomentar